Bertahan Dalam Kebersamaan | Desa Tangguh Covid-19

Best Practice Desa Tangguh Covid-19 ditunjukkan warga Kalurahan Karangsari. Sebuah desa di bagian barat wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta.

Entitas desa diyakini lebih tangguh dalam menghadapi situasi sulit akibat pandemi Covid-19. Kebiasaan bertahan hidup dalam keterbatasan serta kolektifitasnya yang kuat, menjadi modal berharga bagi warga desa menghadapi krisis kesehatan itu.




Didukung dengan berbagai kearifan lokal yang masih berkembang di lingkungan masyarakat setempat, dalam kegiatan pencegahan maupun penanggulangan dampak covid-19, terlihat bagaimana warga merespon pandemi dengan cara yang tanggap akan situasi.

Bagaimana respon warga desa saat mengetahui salah satu warganya atau tetangganya terkonfirmasi positif Covid-19?

Dalam artikel ini penulis coba mendiskripsikan situasi yang terjadi di lingkup RT di wilayah yang telah disebutkan di atas, ketika salah satu warganya terkonfirmasi positif Covid-19, tentunya menurut sudut pandang penulis.

Kebetulan dalam satu keluarga yang terkonfirmasi positif Covid-19 itu terdapat 4 anggota keluarga yang sudah saling kontak erat. Sehingga selama menunggu hasil pemeriksaan lanjutan tracing kontak dan Swab Lab yang dilakukan Tim Gugus Tugas Kabupaten, seluruh anggota keluarga itu melaksanakan isolasi mandiri di rumahnya.

Perwakilan tokoh masyarakat malamnya pun bermusyawarah dipimpin Pak RT. Mereka berembug memetakan apa keperluan mendesak yang dibutuhkan keluarga terdampak. Kemudian memetakan sumber daya apa saja yang bisa dimanfaatkan dan bisa diperbantukan. 

Dalam kesempatan tersebut turut hadir relawan desa yang menginformasikan kepada forum, bahwa anggaran desa sudah tidak memungkinkan lagi dialokasikan untuk membantu keluarga terdampak covid-19. Peruntukan dana desa sudah direfokusing memenuhi kewajiban pemerintaj desa untuk penganggaran Bantuan Langsung Tunai sesuai instruksi Kementrian Desa. 

Mengetahui anggaran negara (Pemerintah desa) dalam keterbatasan, warga pun mufakat berinisiatif menggalang dana bagi membantu keluarga terdampak. 




Perwakilan PKK setempat kemudian mengeluarkan dana sosial sebesar Rp 500 ribu yang akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan bahan pokok/makanan selama keluarga itu menjalani isolasi mandiri. Kas komunitas siskamling RT setempat juga kemudian sepakat dikeluarkan sejumlah Rp 1 juta, untuk digunakan dalam mendukung operasional karantina. Salah seorang tokoh masyarakat setempat menanggung kebutuhan beras. BUMDes melalui unit usaha perdagangan juga mengeluarkan CSR sebesar Rp 300 ribu. 

Setelah sisi pendanaan dalam gerakan sosial tersebut dirasa mencukupi, kemudian mereka membagi tugas masing-masing. Komunitas ibu-ibu PKK dan Kader Kesehatan setempat bertugas mensuplai kebutuhan logistik makanan sehari-hari. Karangtaruna dan kelompok remaja bertugas melakukan disinfeksi seluruh rumah, fasilitas umum (Masjid, PAUD, Sekolah, Mushola, Poskamling, Posyandu). Tidak ketinggalan salah satu warga ditugaskan mengurus makanan hewan ternak yang dimiliki keluarga tersebut. 

Tidak ada warga yang menstigma atau bahkan mengucilkan, tetapi justru yang terlihat dukungan moral terus mengalir dari warga disampaikan melalui pesan yang memberi semangat kepada keluarga tersebut di WA grup RT. 

Berita-berita hoax yang masif disebarkan pihak-pihak tertentu melalui media sosial terutama terkait dengan propaganda bahwa covid-19 tak pernah ada dan hanyalah konspirasi, ternyata tidak mampu menggoyahkan semangat warga desa untuk tetap berkontribusi positif dalam situasi sulit akibat pandemi. 

Narasi-narasi di media sosial yang menyudutkan pemerintah dalam penanganan covid-19, tidak direspon warga desa dengan sikap yang seolah situasi pandemi semata-mata menjadi tanggung jawab negara. Tetapi justru tetap mendukung upaya-upaya penanganan, bersama-sama pemerintah menanggulangi dampak Pandemi Covid-19 di desa.

Kebersamaan warga desa terbangun dari kearifan lokal, tradisi, dan budaya yang masih terjaga. Penggalangan dana sosial melalui tradisi jimpitan siskamling, arisan PKK, dasawisma, ternyata mampu membangun rasa kekerabatan yang erat dan rasa saling memiliki yang tinggi.

Posting Komentar

0 Komentar