Kegemilangan Desa | Haruskah Malu Menjadi Warga Desa?

Dalam sejarahnya desa telah mengalami perkembangan zaman-berzaman. Eksistensinya diyakini telah ada jauh berabad lamanya sebelum negara ini merdeka. Memang tidak ditemukan catatan pasti, kapan desa wujud. Namun bukti sejarah dalam prasasti-prasasti yang ditemukan, menunjukkan keberadaan desa telah wujud sebagai bagian dari kegemilangan zaman kerajaan.


Desa Identik Dengan Kemiskinan, Kebodohan, dan Keterbelakangan

Jalan bagi mewujudkan Kegemilangan desa sebenarnya telah dirintis melalui rezim Undang-undang Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa.

Desa diakui sebagai kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah, berwenang untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan, kepentingan masyarakat setempat berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal usul, dan/atau hak tradisional yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Namun faktanya desa hari ini belum sepenuhnya bisa mengatur, menentukan sendiri kepentingan masyarakatnya berdasarkan prakarsa dan hak asal usul mereka. Pengaturan desa yang terlalu rigid cenderung menjebak Kepala desa dan aparaturnya lebih disibukkan dengan urusan administrasi desa.

Banyaknya aparatur desa yang terjerat hukum karena berawal dari sedikit kesalahan administrasi, hanyalah menunjukkan bukti. Semakin rigid pengaturan desa maka akan semakin menjerat. 

Kepala Desa dan aparatur desanya lebih sibuk menyelesaikan pekerjaan yang bersifat administratif, demi bisa bekerja dengan selamat. Berbanding memikirkan inovasi dalam penyelenggaraan pembangunan desanya. 

Campur tangan banyak kementrian dalam mengatur desa dengan setumpuk kewajiban administratif justru terihat tidak selaras dengan asas pengaturan desa sebagaimana tertuang dalam UU 6/2014.

Harapan dapat mengembalikan kegemilangan desa dan fitrahnya yang tertuang dalam ruh Undang-Undang Desa nyatanya masih sebatas angan-angan semata.

Kegemilangan desa masih terganjal problematika klasik yang senantiasa menggelayuti. Kemiskinan, keterbelakangan, kesenjangan yang masih cukup kentara identik terjadi di desa. 

Menurut data Badan Pusat Statistik pada Maret 2019, kemiskinan di Indonesia pada akhir 2019 berada diangka 9,41% atau sebanyak 25,14 juta penduduk berada di bawah garis kemiskinan. 

Diantara itu, penduduk desa menyumbang sebesar 12,85% (15,15 juta orang), berbanding terbalik dengan tingkat kemiskinan perkotaan yang hanya 6,69% (9,99 juta orang). 

BPS mengukur kemiskinan dengan melihat pada kemampuan penduduk memenuhi kebutuhan dasar (basic needs approach).

Dengan pendekatan ini, kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur dari sisi pengeluaran. 

Jadi Penduduk Miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran perkapita perbulan dibawah garis kemiskinan. 

Ditilik dari tingkat pendidikan penduduk di desa juga masih kalah dengan kota. Capaian rata-rata lama sekolah penduduk 15 tahun ke atas di perkotaan lebih tinggi dibandingkan dengan perdesaan. 

Penduduk perkotaan rata-rata telah menyelesaikan pendidikan dasar 9 tahun, sementara penduduk perdesaan rata-rata hanya bersekolah sampai kelas 7 SMP/sederajat (kurang lebih 7 tahun). 

Di kota akses terhadap sarana dan prasarana pendidikan lebih terjamin. Ditunjang dengan infrastruktur yang mamadai untuk mendukung penyelenggaraan pendidikan.

Mewujudkan Kegemilangan Desa Melalui Optimalisasi Potensi & Sumber Daya

Di balik desa dengan sederet permasalahannya, sesungguhnya memiliki modal besar untuk bisa maju dan menjadi lebih kuat. 

Kegemilangan desa bukan sebuah keniscayaan jika melihat segudang potensi yang dimilikinya. Apa yang perlu dilakukan adalah mengoptimalkan segala potensi yang ada di desa.

Sumber Daya Sosial Desa 

Karakteristik masyarakat desa terkenal dengan rasa kepedulian terhadap sesama dan lingkungannya yang sangat tinggi. Desa memiliki modal sosial yakni kemampuan masyarakat untuk melakukan asosiasi (berhubungan) satu sama lain sehingga menjadi kekuatan yang sangat penting, bukan hanya pada aspek sosial saja, tetapi juga pada aspek ekonomi dan budaya. 

Karakter sosiologis tersebut turut didukung dengan jiwa kultural, ekonomis dan ekologis yang spesifik, sehingga desa tercermin dapat menghadirkan ketenangan, ketentraman, keharmonisan dan kesejahteraan hidup.

Sistem pembangunan padat karya merupakan salah satu contoh penerapan optimalisasi modal sosial yang ada di desa. Gotong royong yang dikembangkan dalam pembangunan desa, mewujudkan interaksi sosial dengan bersama-sama saling bahu-membahu membantu sesama sendiri, menyelesaikan suatu progran pembangunan di desa.

Sumber Daya Alam Desa

Desa kaya akan sumber daya alam yang melimpah. Lahan yang luas, sumber air, serat alam dan kayu, bukit dan letak geografis yang indah. 

Pengelolaan sumber daya alam dengan tetap memperhatikan lingkungan yang keberlanjutan bisa meningkatkan produktifitas desa, juga dapat menyerap tenaga kerja lokal, sehingga dapat meningkatkan ekonomi dan kesejahteraan warga desa. 

Diantara hasil prodiktifitas keluaran desa adalah hasil olahan pertanian, kerajinan, olahan makanan lokal, pariwisata, dan lain sebagainya.

Sumber Daya Manusia

Walaupun desa ada dengan segala permasalahannya, namun memiliki sumber daya manusia yang memiliki cara pandang yang berbeda. Yakni tidak menilai masalah kesejahteraan hanya dari segi formal material semata, namun nilai kesejahteraan harus teruji dan selaras dengan kearifan lokal serta karakteristik warga desa itu sendiri.

Berdasarkan data BPS pada Februari 2019, rasio jumlah penduduk yang bekerja terhadap jumlah populasi di desa lebih besar (69,49) dibanding di kota (63,02). Artinya ketersediaan sumber daya manusia di desa cukup besar. 

Untuk dapat mengoptimalkan angkatan kerja di desa, diperlukan progam-program yang mampu menyerap banyak tenaga kerja. Berbagai usaha sektor pertanian seharusnya bisa menjadi nadi ekonomi desa, sehingga dapat mengurangi pengangguran,  sekaligus meningkatkan derajat kesejahteraan warganya. 

Dengan situasi demikian, seharusnya kita tidak perlu malu menjadi warga desa. Karena sebenarnya desa bisa lebih berdaya, mampu mempersembahkan sesuatu yang berharga kepada negara. Seperti pepatah Desa Gemilang Negara Terbilang.

Posting Komentar

0 Komentar