Gotong Royong Di Desa Punah?

Ciri dan karakteristik masyarakat desa adalah saling memiliki hubungan kekerabatan yang erat diantara warganya. Kedekatan sosial itu direpresentasikan warga desa dengan bersama-sama saling membantu dan saling menguatkan dalam menjaga adat, budaya, tradisi, serta norma-norma yang digunakan sebagai tuntunan dan tatanan hidup yang terjaga dan diajarkan secara turun temurun di desa.


Salah satu contoh dari ciri budaya desa yang masih hidup hingga saat ini adalah gotong royong. Pekerjaan yang seolah berat akan terasa ringan karena dikerjakan secara bersama-sama. Dalam bergotong royong setiap individu membantu sesuai kapasitas dan kemampuan masing-masing.

Seiring pesatnya perkembangan zaman, nilai-nilai sosial seperti adat, tradisi dan budaya di desa, termasuk gotong royong sendiri, sudah mulai tergerus oleh arus industrialisasi dan teknologi yang menciptakan kelas-kelas sosial ditengah masyarakat modern. Polarisasi dan munculnya cluster elit dalam kehidupan sosial menumbuhkan ideologi individualis yang semakin acuh terhadap sesama, sehingga masing-masing lebih mementingkan dan mengejar kelas sosialnya sendiri.

Walau begitu beberapa kelompok masyarakat berupaya tetap mempertahankan budaya gotong royong di desanya. Salah satu contoh adalah yang dilakukan warga RT9 RW3 Pedukuhan Kopat, Kalurahan Karangsari, Pengasih yang berada di wilayah Kulon Progo, DIY.

Pada tahun 2020 di wilayah RT tersebut terdapat 3 keluarga yang menerima Progam Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya. Setiap penerima bantuan, masing-masing mendapat stimulan sebesar Rp 17,5 juta yang akan digunakan untuk membangun rumah. Memang ketiga warga tersebut kondisinya belum memiliki rumah layak huni.

Melihat kondisi ketiga warga penerima bantuan yang tidak memiliki swadaya yang memadai, warga berinisiatif membantu dengan mengkoordinir kegiatan pembangunan rumah di 3 lokasi tersebut. Dengan memanfaatkan sumber daya yang ada, serta dikerjakan dengan bergotong royong, akhirnya pelaksanaan program tersebut dapat berjalan optimal sesuai spesifikasi dan target waktu yang telah ditetapkan.



Bantuan yang paling banyak disumbangkan oleh warga adalah bantuan berupa tenaga. Di wilayah RT tersebut dari 45 KK yang ada, lebih dari 25 Kepala Keluarga berprofesi sebagai tukang batu. Dengan melihat potensi tersebut, warga membuat jadwal gotong royong, sehingga dalam setiap harinya di 3 lokasi kegiatan pembangunan rumah itu, minimal harus ada 2 tukang, 2 tenaga. Dengan terjadwal seperti itu masing-masing warga dalam waktu satu Minggu, hanya perlu merelakan waktunya satu hari untuk bergotong royong. Sedangkan waktu yang lain digunakan untuk bekerja, guna mencukupi kebutuhan keluarga nya.

Selain sumbangan tenaga kerja, ada juga warga yang membantu uang tunai maupun material. Ada juga bantuan dari komunitas dasawisma untuk mencukupi kebutuhan konsumsi saat bergotong royong.

Mempertahankan budaya gotong royong di desa dari kepunahan memang banyak tantangan. Apalagi budaya modernisasi menuntut setiap warga senantiasa produktif. Tetapi gotong royong pada hakikatnya merupakan satu budaya yang sangat produktif, akan tetapi produktif secara kolektif. Gotong royong dapat membuang jauh individualisme, mengetepikan kelas sosial yang seolah-olah menjadi tujuan akhir dari perjalanan hidup masyarakat modern.


Posting Komentar

0 Komentar