Singkatnya Dwell Time Wisatawan | Perlunya Integrasi Pembangunan Pariwisata Kulon Progo

Kenapa pelaku pariwasata perlu memaksimalkan Dwell Time wisatawan? Ya, karena sebenarnya Dwell time atau durasi singgah adalah kunci terjadinya konversi ekonomi yang menjadi tujuan utama dalam pembangunan pengelolaan pariwisata. 

Semakin singkat Dwell Time atau "durasi singgah" wisatawan, maka semakin sedikit potensi konversi ekonomi terjadi. Singkatnya, ketika wisatawan hanya tinggal dalam waktu yang sebentar, maka potensi untuk wisatawan tersebut berbelanja, baik barang maupun jasa pariwasata juga kecil.

dwell-time-wisata-kulon-progo
Lokasi Wisata Kulon Progo


Pola Kunjungan Wisatawan ke Objek Wisata Kulon Progo Sebagai Destinasi Wisata DIY

Tidak dipungkiri sejak beberapa tahun kebelakangan ini, geliat pariwisata di Kulon Progo semakin dirasakan. Penandanya cukup mudah dilihat. Munculnya ikon-ikon pariwisata baru di Kabupaten paling barat di wilayah Yogjakarta itu, serta makin seringnya melihat bule di jalanan Kulon Progo (Pemandangan yang sebelumnya jarang terlihat), cukup dijadikan sebagai bukti.

Hal ini sebenarnya menjadi harapan besar bagi terciptanya peningkatan ekonomi Kulon Progo yang lebih baik, yang ending-nya adalah harapan terhadap peningkatan kesejahteraan warga Kulon Progo, kiranya dapat terwujud. 

Walaupun jika dilihat dari sisi kontribusi sektor pariwisata terhadap pendapatan asli daerah, pariwisata Kulon Progo tentu masih jauh tertinggal dengan Kabupaten lainnya di DIY, seperti Bantul, Sleman dan Gunung Kidul.

Sebenarnya potensi pariwisata Kulon Progo juga tak kalah hebat. Saat ini, siapa sih yang tidak tau Wisata Kali Biru, Pule Payung, Gunung Gajah, Sungai Mudal, Hutan Mangrove, Dolan Ndeso, Kopi Ampirono dan masih banyak lagi spot-spot wisata Kulon Progo yang menawarkan keunikannya yang tersendiri. 

Bahkan, saking hebohnya dunia media sosial di seantero jagad, membincangkan ikon-ikon pariwisata Kulon Progo tersebut. Di balik "Paket Liburan Jogja" nama-nama destinasi wisata tersebut juga selalu muncul. Dari sanalah kunjungan wisatawan luar daerah, bahkan luar negri ke Kulon Progo berasal.

Tapi bila melihat realitas pola kunjungan wisatawan ke Kulon Progo sebagai rangkaian destinasi pariwisata di D.I Yogyakarya, sebenarnya masih banyak potensi besar yang belum tergarap dengan maksimal. Baik oleh masyarakat Kulon Progo, pelaku wisata, maupun Pemda Kulon Progo sendiri. Yakni, potensi konversi ekonomi yang belum tergarap optimal.

Penyebab tidak terjadi konversi yang optimal dalam pengelolaan pariwisata di Kulon Progo adalah : 

Wisatawan Luar DIY Tidak Menginap di Kulon Progo

Wisata, saat ini telah menjadi budaya dan kebutuhan hidup yang kekinian. Hampir setiap orang lelah dengan kesibukan sehari-hari, karena pekerjaan atau profesi demi memenuhi kebutuhan hidup. Sehingga setiap orang butuh refreshing, salah satu cara agar kembali fresh adalah dengan berwisata.

Kulon Progo sebenarnya banyak diuntungkan oleh keberadaan pariwisata Yogyakarta yang sudah menempa nama. Apalagi dengan adanya bandara baru, New Yogyakarta International Airport (NYIA) di Temon, Kulon Progo.

Sayangnya, wisatawan dari luar daerah yang berkunjung ke DIY, kebanyakan tidak menginap di Kulon Progo. Sehingga kita terlepas potensi konversi ekonomi dalam jumlah besar, dari para wisatawan yang singgah dan menginap.

Konversi itu bisa terjadi ,misalnya melalui ongkos menginap, kebutuhan makanan & minuman, kebutuhan sarana kebersihan dan mandi, kebutuhan komunikasi (paket data, pulsa, dsb), kebutuhan transportasi (Ojol, travel, sewa kendaraan, dsb).

Kurang 'Pede' Memberikan 'Suguhan' Menarik

Jauh-jauh hari sebelum berwisata, para wisatawan biasanya telah merencanakan segala sesuatunya demi perjalanan wisata yang lancar dan aman. (Merencanakan waktu cuti, anggaran biaya, tiket, souvernir, pilihan paket wisata dsb).

Atau bahasa kasarnya, seorang wisatawan itu sudah siap menghabiskan uang (sesuai bajet masing²) di tempat yang ingin dituju. Dalam hal ini "Liburan Ke Jogja / DIY". 

Jika ditelusuri lebih lanjut, lalu selama ini dimana sih wisatawan menghabiskan uangnya saat berkunjung ke DIY? 
Di Kulon Progo? 
Sayangnya, tidak!.

Kulon Progo masih hanya sebagai destinasi tujuan wisata sesaat. Wisatawan hanya datang, ber-selfie ria, lalu keluar dari Kulon Progo. Salah satu penyebabnya, selain kurang menyediakan sarana penginapan yang representatif, kita juga seperti belum pede menyuguhkan sesuatu yang khas dari Kulon Progo, yang menarik bagi wisatawan.

Suguhan itu bisa berupa makanan, atraksi, maupun sajian lainnya yang bisa membuat wisatawan betah, singgah di Kulon Progo. Dari sisi makanan dan mijuman, jika kita berkunjung ke spot-spot wisata Kulon Progo apa yang ditawarkan temen-temen pedagang di tempat wisata?

Kebanyakan ya Mie Instan, Tempura, Cilok, Energy drink, air mineral, atau tak jauh-jauh dari itu lah, pokoknya. Bukannya tidak boleh, atau menjustifikasi itu semua adalah produk-produk yang jelek. 

Sah-sah saja sebenarnya menjajakan barang-barang tersebut ditempat wisata. Tapi itu semua mungkin sudah menjadi santapan sehari-hari mereka para wisatawan, saat berada di rumah. Dalam konteks berwisata, tentu wisatawan ingin merasakan sensasi yang tidak seperti biasanya.

Bayangkan, mereka sudah prepare segala sesuatunya untuk menghabiskan bajet perjalanan, termasuk untuk kebutuhan makan & minum selama berwisata, tapi kita malah menyajikan seuatu yang biasa. Tentu menjadi kurang menarik bagi wisatawan.

Produk makanan dan minuman dari hasil olahan lokal kita kemana? Kalau sate walang saja justru di sana bisa menjadi primadona wisatawan, kenapa kita tidak pede tawarkan mungkin tempe benguk dan berjuta makanan serta minuman khas Kulon Progo lainnya?

Dari segi kebutuhan cinderamata, kalau kita lihat masih jarang sekali tempat wisata kita yang menyediakan souvenir khas Kulon Progo. Jika kita berkunjung ke Bali, betapa kita bisa melihat pakaian batik, juga ribuan gantungan kunci, pernak-pernik yang terbuat dari limbah kayu maupun bambu menjadi primadona juga bagi wisatawan untuk sekedar dijadikan oleh-oleh.

Di sisi lain, limbah dari tukang kayu kita di desa-desa masih menjadi santapan tungku perapian dapur. Begitu juga dengan bambu kita, yang jadi sumber bahan utama bagi pengrajin bambu luar daerah, sehingga bambu kita lebih banyak masih 'diekspor' gelondongan ke luar daerah.

Konsep Pembangunan Pariwisata Yang Terintegrasi Berbasis Partisipasi Masyarakat

Demi meningkatkan taraf ekonomi warga, serta dapat mendistribusikan kesejahteraaan dari hasil pembangunan wisata, diperlukan sebuah konsep pembangunan pariwisata Kulon Progo yang berbasis partisipasi.

Peran serta masyarakat, pelaku usaha wisata, terlebih lagi pemerintah disegala tingkatan menjadi kunci keberhasilan pembangunan pariwisata. Pembangunan nir partisipasi hanya akan meninggalkan kekuasaan elitis dan hanya akan menguntungkan segelintir pihak.

Bagaimana konsep pembangunan pariwisata berbasis partisipasi tersebut dapat terwujud? 

Silahkan tulis gagasan kalian dengan meninggalkan jejak di kolom komentar, ya? Hehe.. 

Posting Komentar

0 Komentar