Partisipasi Masyarakat Dalam Pembangunan Sanitasi Desa Demi Mencegah Stunting

Masalah balita stunting (gagal tumbuh) di desa tidak hanya disebabkan karena faktor gizi (malnutrisi) semata, tetapi juga dipengaruhi oleh buruknya Perilaku Hidup Bersih Sehat serta minimnya akses masyarakat terhadap sanitasi di desa.

Desa Karangsari yang terletak di Kecamatan Pengasih, Kulon Progo Yogyakarta ditetapkan sebagai salah satu desa lokus stunting diantara 10 desa stunting di Kabupaten Kulon Progo, pada tahun 2017.

Mencegah-stunting-membangun-sanitasi-desa
Pembangunan jamban dan septik individu | Sanitasi Desa Karangsari

Pertama kali ditetapkan sebagai desa lokus stunting, jumlah balita stunting di desa Karangsari adalah 132 balita, pada 2018 angka stunting desa Karangsari turun menjadi 114, dan pada 2019 prevalensi stunting di desa Karangsari turun lagi menjadi 79 balita. 

Penurunan angka stunting di desa Karangsari terjadi seiring dengan intervensi-intervensi pencegahan stunting yang dilakukan oleh pemerintah lintas sektoral, bersama-sama masyarakat yang dilakukan secara konvergen. Termasuk di dalamnya adalah intervensi pembangunan sanitasi desa.

Partisipasi Masyarakat Dalam Pembangunan sarana sanitasi di Desa

Dalam setiap pelaksanaan program pembangunan sanitasi, tidak pernah sepi dari partisipasi masyarakat desa. Seperti yang terjadi dalam program pembangunan sumber air minum di pedukuhan Gunung Pentul, Desa Karangsari.

Kegiatan Pamsimas banyak menyerap swadaya masyarakat. Kali ini tidak hanya swadaya tenaga kerja dengan gotong royong, tetapi warga desa turut menyumbang penyediaan dana In-Cash sebesar 14 juta. Kerjabakti dan gotong royong dilakukan dalam kegiatan penggalian saluran perpipaan, pembangunan bak reservouir, dan juga pemasangan pipa saluran.

Pembangunan penyediaan sumber air, sangat bermanfaat bagi meningkatkan akses masyarakat terhadap air bersih. Selain untuk kebutuhan air minum, sumber air Pamsimas juga memantik pemberdayaan kelompok pengelola air minum.

Pembangunan Jamban dan Septik Individu Tingkatkan Akses Sanitasi Masyarakat Desa

pada tahun 2019 dalam rangka intervensi pencegahan stunting, Desa Karangsari mendapat program Padat Karya Sanitasi Desa yang didanai oleh APBD DIY melalui Dinas PUPR DIY. Padat Karya sanitasi desa Karangsari menyasar kepada lebih dari 50 Kepala Keluarga, melalui paket pembangunan 39 jamban individu menghabiskan dana 350 juta. 

Pembangunan septik individu bagi rumah tangga miskin di desa Karangsari juga didukung oleh dana Bansos dan BKK APBD II Kulon Progo. Pada tahun 2019 sejumlah 55 rumah tangga mendapatkan manfaat pembangunan jamban sehat tersebut. 

Tak ketinggalan, Dana Desa Karangsari juga dimanfaatkan untuk membangun sanitasi desa dalam program jambanisasi tahun 2019 yang menyasar 24 rumah tangga.

Dalam pelaksanaan pembangunan sanitasi di desa, partisipasi masyarakat sangat kuat. Dari gotong royong, swadaya material masyarakat bahu membahu saling membantu. Peran serta ormas seperti Banser NU juga terlihat dalam kegiatan bakti sosial membantu warga miskin menyelesaikan pekerjaan pembangunan jamban.

Baksos-Banser-Pembangunan-Sanitasi-Desa
Banser Baksos Pembangunan Sanitasi Desa

Selain itu dukungan dana pembangunan sanitasi juga datang dari BKAD (Badan Kerjasama Antar Desa) Sapta Asih, sebagai mitra UPK Kecamatan yang turut berkontribusi dalam kegiatan pembangunan jamban untuk 10 rumah tangga miskin.

Membangun Perilaku Hidup Bersih Sehat dengan 5 Pilar STBM

Selain perbaikan sanitasi desa, perubahan perilaku hidup sehat terus digerakkan dalam rangka mencegah stunting di desa, diantaranya dengan deklarasi desa 5 Pilar STBM. Yakni, desa yang warga masyarakatnya melaksanakan 5 Pilar STBM, yaitu :
  1. Stop Buang Air Besar Sembarangan (BABS).
  2. Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS).
  3. Pengamanan Makanan Dan Minuman.
  4. Pengelolaan Sampah Rumah Tangga.
  5. Pengelolaan limbah Cair Rumah Tangga.

Posting Komentar

0 Komentar