Mudahnya Kita Terprovokasi Propaganda Sosmed dan Internet, Karena Gaptek? | Literasi Digital

Jangankan hanya membagikan opini berisi propaganda (politik), yang seolah sudah menjadi kebiasaan bagi sebagian generasi hari ini, tak jarang kita menyaksikan teman, saudara, atau kerabat membagikan konten, bahkan yang 100% hoax sekalipun di Whatsapp (WA) Group komunitas yang kita ikuti, Facebook, ataupun Twitter? Pasti sudah pernah, bukan?

Lalu mengapa kita hari ini begitu mudah terprovokasi oleh propaganda, penggiringan opini, maupun berita hoax sekalipun, yang datang melalui timeline media sosial (Medsos) maupun yang kita baca lewat media internet yang ada di HP android kita? Apakah ini akibat dari Gaptek (Gagap Teknologi)?

Propaganda Sosmed dan Media Digital | Literasi digital 

Bahaya Mengancam Individu Yang Gaptek (Gagap Teknologi)


Melek internet bukanlah soal memiliki gadget tercanggih dan terbaru atau tidak. Gaptek juga bukan soal mampu dan tidaknya mengakses koneksi internet, atau punya dan tidaknya akun sosmed semata. 

Bahkan orang yang pegang HP android mahal dengan spek teknologi paling mutakhir, yang teinstall aplikasi yang senantiasa terupdate, yang setiap saat terkoneksi jaringan 4G maupun wifi, yang memiliki teman ribuan dan jaringan media sosial yang luas, tanpa memiliki kemampuan memanfaatkan teknologi itu dengan tepat guna, tidak dapat melindungi privasi, keamanan, memilah konten positif dan negatif, serta tidak memahami, menyadari ancaman yang selalu ditebar oleh oknum-oknum dengan memanipulasi teknologi internet untuk tujuan negatif adalah orang-orang gaptek segaptek-gapteknya, berada di garis terdepan, bakal berdepan resiko bahaya internet. 

Orang yang "gaptek" berdepan resiko terjerat masalah penipuan, pencurian, serta berbagai kejahatan cyber lainnya. Individu Gaptek bukan lagi hanya berdepan ancaman sekedar mudah terprovokasi oleh propaganda via sosmed dan media internet, atau anak-anaknya teracuni oleh konten negatif seperti pornografi, LGBT dsb, tapi keselamatan hidupnya juga berpotensi ikut terancam. Ribuan orang sudah terjerat masalah penipuan, pencurian maupun kejahatan lainnya yang dilakukan oleh oknum dengan modus memanfaatkan kelemahan individu yang Gaptek Internet melalui berbagai trik, seperti penyebaran milis berbahaya, spyware, malware, virus trojan dan sebagainya.

Mau tidak mau, suka dan tidak suka hari ini kita dipaksa untuk tidak menjadi gaptek, khususnya terkait teknologi internet. Sudah menjadi tuntutan perkembangan zaman, setiap sisi kehidupan tidak akan terlepas dari pemanfaatan teknologi informasi tersebut. Tuntutan digitalisasi di bidang kehidupan seperti pendidikan, ekonomi, sosial, politik, budaya, keagamaan, pertahanan dan keamanan sudah tak terelakkan lagi.

Perbedaan Cara Mengakses Informasi Lintas Generasi | Mana Yang Gaptek Internet?


Generasi X mengacu pada generasi yang lahir sekitar 1966-1976 tentu mempunyai cara pandang dan sikap yang berbeda terhadap suatu isu. Hal tersebut tentu dipengaruhi oleh cara mereka mengakses informasi yang berbeda, berbanding generasi Z (Usia 5-15 tahun) yang sejak lahir sudah dekat dan berjinak-jinak dengan Internet. 

Generasi pertengahan pula (Y Generation) yang lahir pada 1977-1995 yang banyak melewati proses lompatan-lompatan besar perkembangan teknologi informasi, juga memiliki cara bersikap yang berbeda. Perbedaan tersebut diyakini kerap mempengaruhi respon masing-masing generasi bersikap terhadap isu yang berkembang di media sosial dan internet. Termasuk penyebaran berita hoax dan propaganda politik tentunya. 

Dalam hal mensikapi arus informasi, khusunya penyebaran berita hoax dan propaganda (politik), dari ketiga generasi dengan tingkat "kegaptekannya" terhadap internet yang berbeda tersebut, menghadirkan fakta bahwa tak ada satupun generasi yang mampu menangkal hoax dan propaganda dengan baik. Ada faktor psikologis yang mempengaruhi, dibalik realitas mengapa begitu mudahnya kita terprovokasi oleh propaganda di media sosial dan internet.

Penyebab Orang Mudah Percaya dan Terprovokasi Oleh Propaganda Maupun Hoax di Internet


Berita hoax dan propaganda (Politik) telah mengakibatkan polarisasi (terkotak-kotak) dalam kehidupan masyarakat. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa media sosial sangat berpengaruh terhadap Polarisasi Politik, khusunya di Indonesia. Walaupun begitu di negara-negara tertentu, media sosial tidak cukup berpengaruh terhadap polarisasi politik bagi warganya, seperti yang terjadi di Jepang. Lalu, apa yang sebenarnya menyebabkan kita mudah terprovokasi oleh propaganda (politik) via media sosial?

Polarisasi-provokasi-propaganda-media-internet
Pengaruh media sosial terhadap polarsasi politik | Sumber : katadata.co.id

Kembali ke soal maraknya penyebaran berita "hoax" melalui medsos. Seperti dilansir dari kompas.com (21/3/2017). Dari sisi psikologis, setidaknya terdapat dua hal penting yang menjadi penyebab mengapa begitu mudahnya kita terprovokasi oleh propaganda yang ditebar melalui medsos maupun media internet lainnya.

Masifnya penyebaran berita hoax terjadi yang pertama karena dipengaruhi oleh sikap, pandangan, keyakinan kelompok, produk, dan atau kebijakan tertentu yang sesuai dengan opini, sikap serta pandangan pribadi seseorang. Seseorang yang terlalu suka dengan kelompok, produk dan kebijakan tertentu, jika menerima informasi yang sesuai dengan apa yang ia percayai, cenderung akan langsung membagikan informasi itu, sedangkan keinginan untuk mengecek kebenaran informasi yang diterima menjadi berkurang. Begitu juga sebaliknya.

Penyebaran berita hoax di media sosial biasanya dibungkus dan diawali dengan kalimat "Sekedar berbagi", "Sekedar menginfokan", dan sebagainya yang secara psikologi sebenarnya mengarah pada ketidaktahuan pembagi informasi atas kebenaran informasi yang dibagikan. Jika informasinya tidak benar, merasa tidak bersalah karena hanya sekedar berbagi. 

Penyebab kedua adalah karena terbatasnya pengetahuan penerima informasi sehingga mudah percaya. Jadi kerentanan seseorang menjadi korban hoax, atau mudah terprovokasi propaganda yang disebar melalaui Sosial Media maupun media digital lebih dipengaruhi oleh faktor sejauh mana seseorang dapat berpikir kritis, memiliki kemampuan mengevaluasi informasi yang diterima dan punya kapasitas literasi media yang mumpuni.

Bukan hanya soal kemampuan seseorang dalam memanfaatkan teknologi informasi (tidak Gaptek). Celakanya, fakta menunjukkan bahwa tak ada satupun individu diantara kita semua yang imun terhadap propaganda yang disebar melalui Sosmed dan media digital di Internet. 

Maka yang perlu dilakukan agar tidak mudah percaya begitu saja terhadap kebenaran sebuah informasi, tidak mudah terprovokasi oleh propaganda (politik) di sosmed adalah dengan meningkatkan pengetahuan, serta mengedepankan sikap selektif, tabayun, klarifikasi terkait kebenaran suatu informasi. Perlu lebih ditingkatkan lagi, jika informasi yang sifatnya justru sesuai dengan cara pandang, gagasan, kelompok, produk dan kebijakan tertentu yang kita sukai. Tidak mudah bukan?

Posting Komentar

0 Komentar