Ketika Kebijakan Pemerintah Dihantam Badai Kritik dan Ujaran Kebencian

Kritik-kebijakan-pemerintah


Sudah menjadi Sunnatullah, apabila suatu kebijakan dalam Pemerintahan itu tidak akan mampu memuaskan semua pihak. 

Satu ketika, kemudian pemerintah sedang dalam kondisi dihujani badai kritik, pedas, bahkan dihiasi makian dan ujaran kebencian. Lalu kritik yang bagaimanakah yang perlu diambil perhatian?

Khalifah ke-5 dalam kekhalifahan Abbasiyah, Harun Al Rasyid pernah didatangi tamu yang meminta ijin dan mengancam akan mengkritik beliau dengan keras (suara lantang).

Kemudian Sang Amiirul Mu'minin pun menjawab : 

"Allah itu pernah menugaskan orang yang lebih baik ketimbang kamu yaitu Nabi Musa dan Harun pada orang yang lebih buruk ketimbang saya, yaitu Fir’aun, itu saja ada etikanya, faquula lahu qaulan layyinan (berkatalah yg lembut), kok kamu sama saya mau berucap lantang (keras)? Tidak bisa..!", jawab Harun Al Rasyid, tegas.

Kritik dari orang yang berakhlaq (beretika) qur'ani lah yang prioritas untuk didengarkan, diperhatikan, dan diperjuangkan untuk ditindaklanjuti.

Karena dari sanalah akan timbul kebijakan yang penuh dengan hidmah dan kebijaksanaan. Tidak disampaikan melalui ruang publik yang dipenuhi ujaran-ujaran kebencian, akan tetapi disampaikan dengan penuh kelembutan melalui saluran-saluran aspirasi yang tersedia.

Posting Komentar

0 Komentar