Memilih Kematian Daripada Didiagnosa Covid-19 Dengan Stigma Buruk, Potensi Kehilangan Uang dan Produktifitas

Takut-Kehilangan-Uang-Saat-Didiagnosa-Covid-19

Hasil Survei serologi di DKI Jakarta yang dilaksanakan pada Maret-April 2021 menunjukkan hampir separuh (44%) dari jumlah warga DKI pernah terinfeksi Covid-19, sedangkan kasus terlapor hanya 8,1%. Artinya ada 91% warga terjangkit virus berbahaya itu yang tidak terlaporkan, sehingga tidak terdata di sistem penanganan Covid terpadu. Sepertinya begitu juga hampir sama yang terjadi di sekitar kita. 

Kecenderungan masyarakat enggan untuk melaporkan gejala yang dialami, dipengaruhi oleh berbagai faktor. Seperti takut stigma buruk Covid-19 yang bakal menimpa diri apabila dinyatakan positif, serta enggan melaksanakan isolasi karena akan menjadi tidak profuktif sekurang-kurangnya selama 14 hari.

Situasi ini sebenarnya tidak selalu buruk, apabila setiap individu menyadari dirinya dapat menularkan dan mengancam keselamatan orang lain. 

Warga yang terinfeksi dan sudah sembuh sebenarnya telah memiliki antibodi terhadap virus sehingga memacu percepatan terbentuknya kekebalan komunal (Herd Immunity). Walaupun tantangan mutasi virus tetap masih menjadi PR tersendiri.

Tapi perlu diperhatikan, ada waktunya kapan kita harus siap didiagnosa positif Covid-19.

Melaporkan lebih dini lebih baik, tetapi selambat-lambatnya adalah ketika gejala yang dirasakan sudah mulai mengancam nyawa dan jiwa kita. Terutama lagi ketika merasakan tanda gejala sesak nafas berat. Itu adalah fase kritis yang apabila tidak mendapat penanganan semestinya bisa menyebabkan kematian. 

Di tengah tingginya kasus jangkitan seperti saat ini, tantangan yang bakal kita hadapi saat mengalami gejala sesak nafas adalah terhalangnya proses oksigenasi. Padahal itu adalah satu-satunya tindakan paling efektif untuk menyelamatkan jiwa kita.

Celakanya lagi, akhir-akhir ini rumah sakit rujukan Covid-19 kerap penuh, sedangkan di luar sana oksigen medis pun sulit didapat. Tak heran jika kemudian beberapa kasus yang semestinya bisa tertangani harus berakhir dengan kematian tragis.

Pengalaman kejadian yang kami alami di Minggu kemarin saat menerima laporan seorang warga yang sedang Isoman bergejala sesak berat. 

Pada awalnya koordinasi berjalan lancar. Nakes Puskesmas telah mengabarkan kalau ada 1 bed di RS Rujukan yang bisa diakses pelapor. Mereka menyarankan segera untuk dievakuasi, takut akan terisi oleh pasien yang lain apabila kita lambat. 

Tanpa berfikir panjang kami pun langsung memakai APD Level 3, kebetulan ambulans desa juga sedang siaga. Sampai lokasi, kami menunggu pasien di depan rumah. Sedangkan di dalam kamarnya pasien sedang mengerang menahan sesak sambil ditenangkan oleh anggota keluarganya. 

3 menit kami tunggu, pasien tak kunjung keluar juga. Ternyata pasien enggan di bawa ke RS Rujukan. Pasien sudah tidak ada motivasi untuk sembuh dan nampak pasrah akan keadaan yang dialami. 

Melihat gelagat tidak baik, kami pun meminta ijin untuk masuk ke rumah, menuju kamar yang digunakan untuk isolasi Pasien. Saat dicek SPO2 di oximetri mununjukkan angka 87. Dialog lumayan alot pun terjadi. Harus dengan terus diberikan dukungan moral, motivasi dan semangat bersama relawan dan anggota keluarganya,  baru pada akhirnya pasien mau dievakuasi. Alhamdulillah. Satu nyawa warga desa terselamatkan. Hari ini dilaporkan kondisinya sudah membaik.

Saat jiwamu sudah terancam, jangan takut didiagnosa positif Covid dengan segala konskwensinya. Yakni, kehilangan waktu produktif (isolasi 14 hari) dan mendapat stigma buruk dari tetangga, teman, dan warga yang memang kurang teredukasi penanganan Covid-19. Karena di situ ada harapan untuk keadaan yang lebih baik (terpantau & tertangani), sehingga ancaman keselamatan jiwa kita lebih terlindungi.

Apabila kematian benar-benar sudah datang, mau kau apakan uang yang kamu perjuangkan mati-matian itu?

Posting Komentar

0 Komentar